04 Juni 2011

Muridku Terkena Amnesia?



Amnesia (dari Bahasa Yunani Ἀμνησία) adalah kondisi terganggunya daya ingat. Amnesia adalah ketidakmampuan mengingat beberapa informasi seperti pengalaman secara utuh atau menerima informasi baru. Tapi amnesia tidak menyebabkan hilangnya identitas diri seperti alzheimer yang tidak mengenali diri sendiri. Amnesia ada yang bersifat permanen dan ada yang singkat dan bisa disembuhkan jika menyangkut psikologis.

Penyebab amnesia :
  1. Penyebab organik dapat berupa kerusakan otak, akibat trauma atau penyakit, atau penggunaan obat-obatan (biasanya yang bersifat sedatif). Amnesia ini disebabkan oleh kerusakan pada bagian otak yang memproses memori. Jika bersifat permanen akan sulit diatasi dan biasanya karena kerusakan fisik di otak yang disebut amnesia neurologis atau organik.
  2. Penyebab fungsional karena faktor psikologis yang disebut amnesia disosiatif (psikogenik) yang disebabkan oleh stres, tekanan mental, kebingungan, mekanisme pertahanan ego, korban kejahatan dan trauma. Amnesia jenis ini biasanya berlangsung singkat.
  3. Cedera otak, amnesia karena cedera otak akan berdampak pada gangguan memori yang sifatnya lebih serius dan mungkin bisa menjadi permanen. Penyebabnya bisa mulai dari stroke, radang otak, kurang oksigen akibat serangan jantung atau gangguan pernapasan, penyalahgunaan alkohol, tumor.
Sebagai selingan, silahkan simak lagu dari Gigi dengan judul Amnesia berikut,



Amnesia menjadi penyakit yang cukup dikenal bukan gara-gara lagunya GIGI tersebut, tetapi terkenal setelah ada salah seorang istri pejabat yang menolak dipanggil KPK dengan alasan lupa ingatan berat atau amnesia. Kehadiran beliau menghadap KPK sangatlah penting, karena posisinya sebagai saksi kunci kasus suap pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia. Dokter pribadi dan kuasa hukumnya menolak pemeriksaan oleh KPK, karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.

Lepas dari kontroversi kebenaran amnesia yang dideritanya, ternyata orang kaya, apalagi pejabat, sangat mudah untuk menghindari hukum. Dengan berbagai macam alasan, yang mungkin secara administratif dibenarkan, dijadikan alasan untuk berkelit dari jerat hukum. Apakah penegak hukum tidak bisa menghadirkan bukti atau saksi lain yang bisa digunakan, kok harus menunggu yang sedang sakit. Kalau memang begitu adanya, jangan heran jika pada masa mendatang, seseorang yang sedang berhadapan dengan hukum tiba-tiba terkena amnesia. Cari dokter yang mau membuatkan surat keterangan amnesia (tidak semua dokter, hanya dokter yang sudah tidak memegang kode etik kedokteran), persoalan beres.

Bagi para pendidik (guru dan dosen) di seluruh Indonesia, semoga saja tidak terkena amnesia, apalagi amnesia buatan. Jangan sampai amnesia atau penyakit digunakan sebagai alasan untuk menghidar dari tanggung jawab serta kuwajiban sebagai seorang pendidik. Salah satu kuwajiban pendidik adalah menularkan ilmu sesuai disiplin ilmu yang dimilikinya. Apabila pendidiknya amnesia, kasihan murid-muridnya, tidak akan mendapatkan apa-apa dari para pendidiknya. Walaupun pada zaman teknologi informasi seperti saat ini, apa saja dapat dipelajari dari google, kehadiran seorang guru / dosen tetaplah diperlukan. Akan jadi apa negeri ini jika pendidiknya terkena amnesia.

Di sekolah tempat saya mengajar, saat diajukan beberapa pertanyaan,beberapa siswa gagal menjawab dengan benar. Alasan mereka adalah lupa. Kok mereka ketularan punya penyakit lupa ya? Apa mereka sering melihat berita di TV, tersangka kasus korupsi bisa berkelit dari hukum dengan alasan lupa ingatan berat? Apakah mereka berpikir jika dengan menjawab lupa, mereka akan terhidar dari nilai jelek? Ternyata mereka juga lupa, bahwa untuk bisa dinyatakan lupa ingatan atau amnesia, harus ada surat keterangan dokter.
Sebenarnya, lupanya siswa bukan karena amnesia, tetapi karena tidak belajar. Mereka lupa karena memang belum membaca materi pelajarannya. Waktu yang seharusnya untuk belajar, sekarang banyak yang dirampas oleh acara televisi, play station, game online, facebook, hp, kluyuran pakai motor dan lain-lain. Perkembangan teknologi informasi, dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang relatif lebih meningkat, kurang disikapi dengan bijak oleh orang tua dan anak. Budaya materialis bagi generasi muda membius kenikmatan masa kini, melenakan masa yang akan datang.

Tugas berat bagi para pendidik, untuk selalu mengingatkan dan mengingatkan kepada anak didiknya akan pentingnya masa depan lebih dari masa kini. Orang tua harus lebih bertanggung jawab kepada putra-putrinya, memantau waktu belajarnya, mengontrol kegiatan yang dilakukannya. Waktu mereka lebih banyak bersama dengan orang tua dibanding dengan para guru di sekolah. Masa depan mereka, baik langsung maupun tidak langsung, yang menikmati adalah orang tua, bukan guru-gurunya. Guru sudah merasa senang jika murid-muridnya berhasil.

Kepada semua murid di seluruh wilayah Indonesia, tetaplah tekun belajar, jangan sampai terkena amnesia ketika di sekolah.
Baca terus >>

01 Juni 2011

Heboh SMS


Pada zaman teknologi informasi saat ini, siapa yang tidak mengenal SMS. Bahkan ketika dijadikan lagu yang dinyanyikan oleh Ria Amelia, sempat menjadi hits. Untuk mengingat kembali lagunya, monggo dinikmati dulu

Layanan pesan singkat (bahasa Inggris: Short Message Service disingkat SMS) adalah sebuah layanan yang dilaksanakan dengan sebuah telepon genggam untuk mengirim atau menerima pesan-pesan pendek. Pada mulanya SMS dirancang sebagai bagian daripada GSM, tetapi sekarang sudah didapatkan pada jaringan bergerak lainnya termasuk jaringan CDMA. Pesan-pesan SMS dikirim dari sebuah telepon genggam ke pusat pesan (SMS Center), di sini pesan disimpan dan mencoba mengirimnya selama beberapa kali. Setelah sebuah waktu yang telah ditentukan, biasanya antara 1-3 hari, lalu pesan dihapus. Seorang pengguna bisa mendapatkan konfirmasi dari pusat pesan ini.
Sebuah pesan SMS maksimal terdiri dari 140 bytes, dengan kata lain sebuah pesan bisa memuat 140 karakter 8-bit, 160 karakter 7-bit atau 70 karakter 16-bit untuk bahasa Jepang, bahasa Mandarin dan bahasa Korea yang memakai Hanzi (Aksara Kanji / Hanja). Isi SMS di Indonesia umumnya menggunakan karakter latin yang cukup dengan 7-bit, sehingga umum nya kita bisa mengirim sebuah SMS maksimal 160 karakter. Selain 140 bytes ini ada data-data lain yang termasuk. Adapula beberapa metode untuk mengirim pesan yang lebih dari 140 bytes, tetapi seorang pengguna harus membayar lebih dari sekali.
Hasil penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa SMS merupakan bentuk komunikasi paling populer di kalangan remaja negara itu. Penelitian yang dilakukan oleh Pew Internet and American Life Project menunjukkan bahwa SMS jauh melebihi percakapan telpon genggam di kalangan remaja. Berdasarkan penelitian, lebih dari 30% remaja mengirim sekitar 100 SMS setiap hari.Para peneliti mengatakan kaum remaja Amerika lebih menyukai SMS karena mengirim SMS bisa dilakukan di hadapan orang tua, guru atau sosok-sosok penting lain, yang tidak mungkin melakukan percakapan telepon karena dianggap tidak sopan. Apabila dilakukan penelitian di Indonesia, mungkin tidak akan terlalu jauh hasilnya.
SMS menjadi populer karena relatif murah, Di Indonesia, tergantung perusahaan operator selulernya. Awalnya tarif SMS berkisar Rp. 250 sampai Rp. 350, namun sekarang banyak program promo, seperti SMS gratis, SMS Rp. 1 per karakter dll, yang turut mendongkrak penggunaan SMS dibandingkan penggunaan layanan percakapan.
Kepopuleran dan murahnya layanan SMS ini, tentu membawa dampak positif dalam perkembangan komunikasi. Dengan SMS, pesan dapat langsung terkirim saat itu juga, dan akan diterima saat itu juga (dengan syarat nomor penerima SMS dalam keadaan aktif). SMS sebagai layanan teks, menjadi jalan keluar untuk mendapatkan kecepatan dalam pengiriman pesan dibandingkan dengan pengiriman pesan konvensional lewat POS. Harga sebuah SMS pun juga jauh lebih murah dari harga sebuah prangko, untuk pengiriman lokal sekalipun.
Pedang bermata dua, SMS pun bisa untuk berbuat kejahatan, memfitnah, propaganda negatif serta hal-hal negatif lainnya. Beberapa contoh diantaranya,
1. SMS pemenang undian berhadiah, entah mobil atau uang.
2. SMS yang mengaku kerabat meminta kiriman uang karena terkena musibah.
3. SMS mengaku orang tua yang minta dikirimi pulsa,
4. SMS berisi ancaman teror bom,
5. SMS berisi fitnah pada pihak lain terutama pada saat kampanye, dll.
SMS yang paling menghebohkan akhir bulan Mei 2011 ini adalah SMS dari (konon) salah seorang mantan bendahara sebuah partai besar. SMS (yang belum dapat dipastikan kebenarannya) yang ditujukan kepada pembina partai sekaligus kepala negara, petinggi-petinggi partai, politisi dll, menambah kusut benang yang sudah terlanjur kusut. SMS disalahkan penggunaanya untuk menyerang pihak-pihak lain yang tidak sepaham. Fungsi SMS berubah menjadi sebuah senapan untuk membidik lawan-lawan politik, dengan tujuan untuk menjatuhkan orang/kelompok lain. Pejabat-pejabat negara, petinggi-petinggi partai, pengamat politik serta pakar telematika dibuat kalang yang berkabut oleh menyebarnya SMS tersebut. Wartawan, media elektronik maupun cetak menjadi kelebihan berita untuk dimuat. Begitu dahsyatnya efek dari sebuah SMS.
Masih banyak manfaat yang bisa diambil dari SMS, lebih dari sekedar mengirimkan informasi. Memanfaatkan SMS dalam bidang pendidikan kelihatannya juga belum banyak dilakukan secara maksimal. Pernah saya berharap, bisa mengirimkan tugas-tugas rumah atau PR, atau tugas lain yang berkaitan dengan pembelajaran di sekolah, memberi tes langsung lewat SMS, atau yang lainnya. Sayang, belum semua siswa belum mempunyai handphone. Maklum, sekolah yang berada didaerah pinggiran, dengan siswa yang berasal dari pinggiran hutan, alat komunikasi handphone belum merupakan kebutuhan, karena masih kalah dengan urusan sandang dan pangan.
Sementara siswa yang telah memiliki handphone, SMS lebih banyak digunakan untuk pengiriman pesan yang tidak produktif. Pesan-pesan sampah yang tidak penting, ajang mojok sampai larut malam dan lain-lainnya. Teknologi yang dibuat sedemikian rupa untuk peningkatan harkat martabat manusia, menjadi percuma karena penggunaan yang tidak pada tempatnya.
Baca terus >>