02 Februari 2011

Masih Adakah Semangat Belajar dan Bersekolah

Setengah bulan ini, saya dimintai tolong dua orang sahabat, satu orang pengawas SD dan satu orang montir motor. Hampir setiap sore selepas Ashar mereka dengan semangat belajar komputer.
Pada suatu hari (seperti buku cerita SD saja), kebetulan saya ngajar 8 jam pelajaran nonstop dari jam 07.00 sampai 13.10. Disambung dengan mengajar SMP Terbuka dari jam 13.15 sampai 15.00. Pulang sampai rumah habis sholat langsung klekaran (bahasa Indonesianya apa ya?). Maksud hati mau membuat ringkasan materi untuk beliau-beliau, tapi karena capek, akhirnya matapun tertidur didepan komputer.
Bapak pengawas sedang berhalangan hadir, cuma mas montir yang datang, sayangnya, pas sampai depan rumah, kemudian mengintip dari celah gorden, demi melihat saya masih terkapar di depan komputer, mas montir tidak berani masuk dan hanya menunggu di depan rumah. Setengah jam berlalu, sayapun terbangun dengan serta merta, teringat janji kepada sahabat.
Didepan rumah, mas montir telah menunggu dengan setia, sambil membaca materi yang saya berikan tempo hari. Berhubung hari sudah terlanjur terlalu sore (bahasanya nggak apik blas, isin nek diwaca pak Sawali), akhirnya disepakati latihannya dilanjut besok saja. Akhirnya kamipun cuma omang-omong (iki basa apa maneh?).
Dari omang-omong ini, saya secara halus berusaha mengorek keterangan perjalanan hidupnya (reserse mode is on). Mulailah mas montir bercerita, bahwa dia dilahirkan dari keluarga yang tidak berpunya, ayah yang sakit-sakitan karena paru-parunya digerogoti TBC, ibu yang tidak punya pekerjaan selain jadi buruh. Orang tuanya hanya bisa menyekolahkan sebatas lulus SD itu saja. Selepas SD, iapun menjadi buruh bangunan, pertama jadi buruh menggali pondasi gedung DPRD Kendal (yang sekarang katanya diisi oleh orang-orang yang .. begitu deh). Dengan usia sebelia itu, si mandor tidak tega melihatnya, karena kebetulan dia juga punya anak sebesar mas montir ini. Si mandor pun meminta mas montir berhenti, walaupun bekerja baru seminggu, si mandor membayarnya sebulan penuh.
Setelah tidak bekerja, mas montir sedih, karena harus membantu ibunya untuk mencari makan. Maka iapun mencari pekerjaan lagi, tapi yang namanya lulusan SD, akhirnya ya kuli lagi kuli lagi. Menjadi kuli bangunan di sebuah pabrik, dan bertahan sampai 3 bulan. Setelah itu jadi kuli lagi di daerah Semarang untuk pembangunan perumahan. Setiap pagi, mas montir ini duduk di pinggir jalan, menangis ketika mengamati anak-anak berseragam biru putih seusianya berduyun-duyun berangkat ke sekolah. Ingin sekali ia bersekolah, tak jarang gaji kulinya digunakan untuk membeli buku untuk bekal kelak kalau bisa bersekolah.
Semangat sekolahnya semakin bergelora, iapun berusaha mencari informasi bagaimana ia bisa bersekolah (sayang, saat itu belum ada SMP terbuka). Suatu ketika ada seseorang dari Solo bersedia menyekolahkannya. Mas montirpun segera meluncur ke Solo. Kenyataan tak seindah yang dibayangkan, disana mas montir hanya disuruh mencari rumput dan menggembala kambing. Ketika ditanyapun orang tua angkat ini tidak memberi kepastian, maka iapun pergi, dan bekerja di sebuah pabrik roti. Bos pabrik roti inipun merasa kasihan, dengan usia yang masih sangat muda, jauh jauh dari Kendal bekerja mencari nafkah. Ketika ditanyapun, mas montir ini selalu mengatakan ingin sekolah sambil bekerja. Akhirnya bos rotipun mencarikan jalan keluar, dengan menitipkan mas montir ke sebuah panti asuhan di daerah moga pemalang.
Selama di panti itu, mas montir bisa bersekolah SMP hingga tamat. Tapi setelah tamat, semangat untuk sekolahpun belum surut. Sementara pihak panti asuhan hanya mampu menyekolahkan hingga tingkat SMP. Mas montirpun berjuang keras mencari orang yang mau membiayainya sekolah, dengan imbalan ia mau bekerja apa saja asal halal. Mas montir terdampar di kota Pemalang, ikut seorang pegawai Dinas Sosial, dan ijazah SMA pun diraihnya.
Dengan bekal ijazah SMA, mas montirpun mencari kerja, di Jakarta menjadi sales, pindah ke Semarang sebagai karyawan pabrik. Bosan dengan pekerjaan yang didapatkannya, iapun belajar montir sepeda motor. Setelah lulus, mas montirpun keluar dari pabrik dan magang pada bengkel-bengkel motor. Setelah ilmunya mencukupi, akhirnya mas montir inipun mendirikan bengkel sendiri.
Salah seorang pelanggan di bengkelnya adalah bapak pengawas SD. Pak pengawas ini walaupun sudah sepuh, masih bersemangat untuk belajar, termasuk komputer. Dari pengawas inilah, mas montir akhirnya jadi ikut belajar komputer.
Begitulah cerita mas montir, yang mungkin tidak menarik bagi pembaca, tapi sangat menarik bagi saya. Dalam keadaan yang sedemikian sulit, niat untuk belajar dan sekolahnya sungguh tinggi. Kontras dengan keadaan anak-anak sekarang, dimana kemampuan dari orang tua ada dan tersedia, tetapi malah banyak yang tidak memanfaatkannya. Lihat saja setiap pagi pada jam-jam sekolah, ada saja siswa-siswi yang masih berseragam kesana dan kemari, membolos sekolah, berpacaran, nongkrong dll. Belajar kalah telak melawan HP dan televisi, sekolah KO oleh motor dan playstation. Itulah kenyataan saat ini.

Baca terus >>