17 Mei 2009

Diskriminasi Guru


Guru (dari bahasa Sansekerta गुरू guru yang juga berarti guru, tetapi arti harafiahnya adalah "berat") adalah seorang pengajar suatu ilmu. Dalam bahasa Indonesia, guru umumnya merujuk pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.


Guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru-guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dalam definisi yang lebih luas, setiap orang yang mengajarkan suatu hal yang baru dapat juga dianggap seorang guru. Beberapa istilah yang juga menggambarkan peran guru, antara lain: Dosen, Mentor,
Tutor. (dicopy paste dari sini)

Pendidikan di Indonesia, membagi guru dalam beberapa golongan, walaupun tugas-tugasnya tentu sama. Pembagiannya adalah :
1. Guru PNS,
Guru PNS atau guru pegawai negeri sipil yaitu guru yang mengajar di sekolah negeri atau diperbantukan di sekolah swasta yang diangkat berdasarkan SK dari pemerintah (daerah/pusat). Guru PNS memiliki nomor induk pegawai (NIP), nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK), nomor pokok wajib pajak (NPWP bagi yang sudah sadar), nomor pokok anggota PGRI (NPA), nomor rekening bank bagi yang sudah sertifikasi dan atau mempunyai hutang di bank, nomor HP baik GSM maupun CDMA, serta nomor-nomor lainnya. Guru-guru yang masuk ke dalam rombongan ini termasuk guru yang paling beruntung dibandingkan dengan guru yang lain dengan gaji yang lebih , jaminan kesehatan serta jaminan hari tua.
2. Guru kontrak atau guru bantu
adalah guru yang mengajar di sekolah negeri atau swasta yang diangkat berdasarkan SK dari pemerintah pusat atau daerah. Mereka digaji oleh pemerintah walaupun jumlahnya tidak sebesar guru PNS. Pada tahun 2009, seharusnya pemerintah sudah mengangkat semua guru kontrak serta guru bantu, sehingga tidak ada lagi guru kontrak maupun guru bantu.
3. Guru tetap yayasan
adalah guru yang bekerja di sekolah swasta yang diangkat berdasarkan SK yang dibuat oleh yayasan. Gaji didapat dari hasil pengelolaan keuangan sekolah atau bantuan dana dari yayasan.
4. Guru tidak tetap (GTT) atau guru wiyata bakti
adalah guru yang mengajar di sekolah negeri, yang diangkat berdasarkan SK dari kepala sekolah tempat ia mengajar. Sumber gaji berasal dari pengelolaan keuangan sekolah, yang besarnya menyesuaikan kemampuan sekolah, yang tentu jauh lebih kecil dibanding guru PNS bahkan masih dibawah UMR. Sementara ada juga pemerintah daerah yang membantu uang transport bulanan. Keuntungan guru ini adalah masa kerjanya akan diakui ketika kelak diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil. Begitu diangkat menjadi CPNS, masa kerja yang tertulis dalam SK bukan enol tahun enol bulan, tetapi sekian tahun sekian bulan tergantung masa kerjanya selama menjadi GTT atau guru wiyata bakti.
5. Guru swasta murni
adalah guru yang mengajar di sekolah swasta, yang diangkat berdasarkan SK dari kepala sekolah tempat mengajar. Nasib guru ini tentu yang paling mengenaskan dibanding guru-guru yang lain.

Walaupun guru terdiri dari beberapa golongan, namun tugas utamanya sama, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik serta harus membuat rencana pengajaran setiap akan melaksanakan tugasnya di depan kelas. Dalam hal tugas, tidak ada bedanya antara guru yang bergaji besar (PNS terlebih lagi yang sudah sertifikasi) dengan guru yang bergaji dibawah UMR. Entah mengapa gajinya berbeda tetapi tugasnya harus sama.

Pada bulan ini, ada seleksi guru, kepala sekolah dan pengawas berprestasi. Salah satu syarat peserta guru berprestasi adalah guru berstatus PNS atau guru tetap yayasan (nomor 1 dan 3). Lalu bagaimana dengan guru wiyata dan guru swasta? Sungguh malang benar nasibmu. Apakah memang guru wiyata dan guru swasta tidak dapat berprestasi? Atau memang tidak mungkin berprestasi? Hingga harus dikeluarkan dari daftar calon peserta guru berprestasi?

Kenyataan di lapangan, banyak guru wiyata dan guru swasta yang memiliki dedikasi dan loyalitas pada pekerjaan diatas guru PNS. Sebagian (tentu tidak semua) guru PNS karena merasa sudah tahu pasti gajinya, malah menjadi asal-asalan dalam melaksanakan tugas. Dedikasi dan loyalitas menjadi mengendur dan meluntur. Lebih parah lagi ada yang menyerahkan tugasnya pada guru wiyata.

Begitu pula pada saat sertifikasi guru, yang bisa disertifikasi hanya guru PNS dan guru tetap yayasan. Sementara guru wiyata dan guru swasta hanya bisa gigit jari melihat rekan-rekannya berlomba lomba mengikuti seminar dan workshop demi mengejar sertifikat yang akan digunakan untuk mempertebal berkas portofolio. Entah apa alasannya yang disertifikasi (yang akan ditambah gajinya) hanya guru yang PNS dan guru tetap yayasan yang nota bene gajinya sudah lebih baik, sementara guru wiyata dan swasta dengan gaji kecil justru ditelantarkan. Toh tugas dan kuwajiban mereka sama.

Tolong wahai bapak-bapak pembuat dan penentu kebijakan dalam dunia pendidikan, perhatikan dan hargailah mereka (guru wiyata dan swasta). Janganlah melihat mereka hanya dengan sebelah mata. Kemajuan pendidikan juga tidak lepas dari jerih payah, kerja keras mereka. Jika gaji belum bisa disamakan dengan alasan anggara, setidaknya hargai mereka, beri mereka kesempatan yang sama seperti guru-guru yang lain. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik dengan tanpa mendiskriminasikan guru.
Baca terus >>

05 Mei 2009

Blog of The Year


Penilaian terhadap blog yang saya lakukan ini sangat subyektif. Hanya mengandalkan pengamatan sekilas tanpa dasar ilmiah, analisis statistik maupun referensi yang memadai. Jadi, hasil dari penilaian ini tentu tidak dapat digunakan sebagai acuan apalagi dijadikan landasan teori. Anggap saja tulisan ngelantur dari pada nganggur. Blog of The Year ini saya lakukan mana kala sempat saja. Bisa jadi ya hanya sekali ini saja ada Blog of The Year versi RochMANIAC, tapi bisa juga nanti tiap minggu atau tiap bulan ada Blog of the Year. Tidak perlu dipusingkan kalau judulnya blog of The Year tetapi penilaian dilakukan secara mingguan maupun bulanan. Lalu, blog siapakah yang dinobatkan sebagai Blog of the year kali ini?

Yang terpilih sebagai Blog of The Year kali ini adalah blog milik seorang wanita muda bernama Rani Juliani dengan alamat blog http://rani-juliani.blogspot.com/. Alasan pemilihan bukan karena dia adalah perempuan muda dan cantik serta sedang menjadi buah yang dibibir media massa. Penilaian ini dilakukan tanpa mengesampingkan pendekatan statistik. Sebuah blog dikatakan sukses (menurut saya) jika banyak dilihat oleh pengunjung. Lebih sukses lagi dilihat dari banyaknya pengunjung yang memberikan komentar. Jadi saya hanya menilai dari sisi kunjungan dan jumlah komentarnya saja, dengan mengabaikan sisi yang lain seperti estetis, layout, bahasa apalagi sampai keabsahan kode HTML nya.
Entah yang membuat blog Rani Juliani ini Rani beneran atau Rani palsu, tapi kalau dilihat dari artikel pertamanya pada hari Selasa tanggal 25 November 2008, dimana masih jauh dari hiruk pikuk dan riuh rendahnya perkara yang menyeret ketua KPK bapak Antasari Ashar, kemungkinan besar blog tersebut memang dibuat oleh yebees. Blog ini sederhana, dengan tampilan template yang tidak terlalu rumit, hanya sebuah kupu yang unjuk muka pada bagian atas blog. Pada sisi kanan terdapat pernak pernik widget standar seperti shoutbox, arsip dan profil. Dia juga melengkapi blognya dengan mp3 player untuk menghibur kuping pengunjung yang mempunyai bandwidth berlebih.
Artikel yang dipajang juga belum banyak, baru dua artikel yang sempat ditulis, semuanya ditulis pada hari Selasa tanggal 25 November 2008 pada jam 21.35 dengan judul Mengapa Saya Memilih Perguruan Tinggi Raharja dan pada jam 22.40 dengan judul Visi Menuju Perguruan Tinggi Unggul Tahun 2010. Lalu apa hebatnya blog ini hingga terpilih menjadi Blog of The Year?
Seperti uraian sebelumnya, saya hanya membatasi penilaian berdasarkan jumlah kunjungan dan komentarnya saja. Blog yang dibuat pada bulan November 2008 tersebut, sampai bulan April 2009 masih sangat sepi, sepiii sekali, sendiri tanpa ada yang menemani. Entah sudah ada pengunjungnya atau belum. Bisa jadi yang mengunjungi ya hanya si empunya saja. Tetapi keadaan berubah 180 derajat pada awal bulan Mei 2009. Menurut penyelidikan saya, komentar pertama tertanggal 1 Mei 2009. Pada hari itu juga berpuluh-puluh komentar masuk. Hingga saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 500 komentar untuk masing-masing 2 artikel tersebut. Jadi total sudah lebih dari 1000 komentar hanya dalam waktu kurang dari 1 minggu. Opo ora hebat??? Blog kondang semacam blognya pak sawali saja, komentarnya rata-rata masih dibawah 200 komentar, itu pun kadang-kadang butuh waktu lebih dari 1 minggu.
Memang sebagian besar komentarnya tidak ada sangkut maupun paut nya dengan artikel yang ditulis. Ada yang hanya sekedar say hello, ada yang memberi semangat, ada yang mengolok-olok, mengejek, mencaci memaki, mulai dari bahasa yang lemah dan lembut penuh sopan lagi santun, tapi tidak kurang juga yang menggunakan gaya bahasa sarkasme, kasar, sadis, tanpa peri kemanusiaan, tanpa memperhatikan norma kesusilaan, jorok dan porno. Ada juga yang memancing di air keruh, dengan memanfaatkan ketenaran blog Rani Juliani untuk memasang iklan, bermacam-macam iklan mulai dari mengiklankan blog sampai mengiklankan obat-obatan.
Pada tanggal 2 Mei 2009, si empunya blog sempat menyensor dengan menghapus beberapa komentar yang mungkin tidak mengenakkan si empunya blog. Tapi apa daya, gempuran komentar bertubi-tubi akhirnya si empunya blog pasrah menyerah tak berdaya. Komentar-komentar kotor pun terpampang dengan santainya. Bisa jadi si empunya blog tidak sempat ngopeni lagi blognya karena sedang dalam pelarian atau persembunyiannya.
Shoutbox nya lebih parah lagi, ketika penulis ingin meninggalkan pesan pada shoutbox, ternyata kuota 60 pesan per jam telah terlewati, sehingga pesan tidak dapat masuk dan harus menunggu jam berikutnya. Begitu hebatnya blog Rani Juliani, sehingga pengunjungnya rela berduyun-duyun dan berbondong-bondong serta harus bersabar walau hanya untuk menyampaikan komentar maupun pesan. Maka tidaklah salah menurut saya jika saya memilih blog Rani Juliani sebagai Blog Of The Year versi RochMANIAC. Selamat kepada pemenang, maaf kalau tidak ada hadiahnya, tetaplah ngeblog.

Baca terus >>