27 September 2008

Sekolah Berstandar

Keluar dari mulut harimu, maasuk ke mulut singa. Begitulah kira-kira yang saya alami pada akhir Romadhon tahun ini. Betapa tidak, coba anda bayangkan, setelah satu minggu mengikuti workshop guru pemandu IPA di LPMP Jawa Tengah, 4 hari kemudian, tepatnya pada H-6 menjelang lebaran, saya mendapatkan tugas dari kepala sekolah untuk mengikuti workshop pembinaan sekolah calon SSN (Sekolah Standar Nasional) di asrama haji Donohudan kecamatan Ngemplak, Boyolali. Berangkatpun sudah mulai susah, karena arus mudik sudah mulai merayap disepanjang jalur pantura dan jalur Semarang-Solo. Tempatpun sebenarnya kurang representatif, ditengah tanah lapang, pada siang hari panasnya bukan main, pada malam hari dinginnya bukan main-main, karena angin berhembus kencang bagaikan anakan angin ribut. Tidurpun harus berdesak-desakan dan di tempat tidur tingkat dengan satu asrama berisi 56 peserta, dengan 7 kamar mandi, itupun hanya 3 yang berfungsi. Setiap acara mandi, terjadilah antrian yang panjaaaaaaaaaaaaaang. Urusan buka dan sahurpun ada cerita lain. Untuk masuk ke kantin harus membawa kartu makan. Barang siapa dengan sengaja dan/atau tidak sengaja, lupa membawa kartu makan, petugas di depan ruang makan akan mengusir peserta (aduh.. kejamnya, bulan puasa mau makan saja kok susah ya..). Yang juga tidak kalah menyedihkan, karena workshop diikuti oleh kepala sekolah dengan wakil kepala sekolah atau guru senior, maka tentu pesertanya rata-rata sudah tua-tua, termasuk ibu-ibunya. Tidak ada yang seger-seger.... sekedar untuk cuci mata. Dan yang paling parah, tidak ada fasilitas hotspot dan/atau warnet, sehingga, kegiatan blogwalking, silaturahmi dengan tetangga blog dan baca-baca blog lain tidak dapat berjalan untuk sementara waktu.
Untungnya saya masih ingat, bahwa saya sedang berpuasa. maka, amanat dan tugas negara ini saya jalani dengan sabar, tetap sehat dan tetap semangat. Apalagi ini demi kemajuan sekolah, demi murid-murid. Karena, dengan mengikuti workshop ini, sekolah kami menjadi sekolah calon SSN/sekolah potensial/sekolah formal mandiri, bersama 217 sekolah lain di Jawa Tengah yang mengikuti kegiatan workshop.
Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional melalui Permendiknas no 19 tahun 2005 telah menetapkan 8 standar nasional pendidikan (SNP), yaitu:
1. Standar Kompetensi Lulusan
2. Standar Isi
3. Standar Proses Belajar Mengajar
4. Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
5. Standar Sarana dan Prasarana
6. Standar manajemen
7. Standar Pembiayaan
8. Standar Penilaian
Sedangkan sekolah, berdasarkan pemenuhan terhadap ke delapan standar tadi, dibagi menjadi:
1. Sekolah formal standar / potensial / calon SSN
2. Sekolah formal mandiri / SSN
3. SSN dengan keunggulan lokal
4. Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)
Sekolah calon SSN adalah sekolah yang masih relatif banyak kekurangan/kelemahan untuk memenuhi kriteria delapan standar nasional pendidikan (SNP). Singkatnya sekolah calon SSN adalah sekolah yang belum memenuhi (masih jauh) dari SNP. Sekolah standar nasional (SSN) adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi SNP. SSN dengan keunggulan lokal adalah sekolah yang sudah atau hampir memenuhi kedelapan SNP, dengan tambahan keunggulan lokal yang bisa diintegrasikan dalam kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, IPTEK, estetika maupun mata pelajara olah raga jasmani dan kesehatan. Sedangkan sekolah bertaraf internasional (SBI) adalah sekolah yang menyiapkan peserta didiknya berdasar standar nasional pendidikan Indonesia dan tarafnya internasional sehingga lulusannya mempunyai daya saing internasional. SBI disebut juga SNP + X dimana SNP adalah 8 standar nasional pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan sesuai dengan standar pendidikan negara maju. Disamping itu lulusannya minimal menguasai penggunaan salah satu bahasa asing secara aktif dan diterima di satuan pendidikan luar negeri yang terakreditasi atau diakui di negaranya.
Semoga sekolah yang sudah menjadi sekolah bersandar benar-benar memperjuangkan agar dapat mencapai standar nasional pendidikan yang diharapkan. Bukan sekedar status yang ditempelkan di depan gerbang sekolah, SMP anu sekolah standar nasional, SMP anu sekolah bertaraf internasional dll. Memang untuk menjadikan sekolah yang memenuhi standar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Biaya itu merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Masyarakat sudah ada yang memplesetkan SSN dengan sekolah semakin nyengsarakan, atau SBI dengan sekolah bertarif internasional. Sekarang tinggal bagaimana sekolah, warga sekolah dan masyarakat (orang tua/wali murid) mengemban status sebagai sekolah berstandar.
Baca terus >>

19 September 2008

Akses Internet Gratis


Segala sesuatu yang berbau gratis memang menyenangkan dan banyak yang mencari. Dengan adanya yang gratis, tidak perlu mengeluarkan modal, tidak perlu mengeluarkan biaya tetapi bisa menghasilkan sesuatu. Ringkasnya tanpa output tetapi ada input.
Uang gratis, tentu akan diburu dan diperebutkan. BLT salah satu contohnya. Uang mudah dari pemerintah yang datang begitu saja, yang menginginkannyapun banyak bahkan sangat banyak. Seharusnya dana BLT adalah untuk yang miskin, tetapi yang mampu dan yang kaya juga memaksa untuk mendapatkannya. Sering terjadi mulai adu mulut hingga adu otot antara aparat yang mendaftar BLT dengan warga yang minta BLT. Orang yang mampu dan kaya lebih suka dimiskinkan ketika ada pendaftaran BLT, bahkan mengaku tidak punya apa-apa. Apa yang sebenarnya dimiliki diakui sebagai milik orang lain demi mendapatkan BLT. Sebenarnya kalau mau berpikir jauh, uang BLT bagi tidak akan menjadikan seseorang kaya, yang tidak mendapatkanpun tidak akan jatuh miskin. Karena BLT memang hak orang yang miskin.
Contoh lain adalah waktu pembagian zakat di Pasuruhan. Berita ini menjadi sangat heboh, diberitakan di media cetak maupn elektronik. Bloggerpun banyak yang memposting dengan tema tentang pembaian zakat di Pasuruhan ini. Berita ini menjadi besar karena adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Seorang dermawan membagikan zakat kepada fakir miskin. Ia telah melakukannya tiap-tiap tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya berjalan biasa saja. Ia tidak membatasi jumlah penerima zakat. Siapa yang datang, mereka akan mendapatkan zakat. Tetapi pada tahun ini, jumlah peminta zakat diluar perkiraan, sangat banyak, sehingga mereka berdesak-desakan. Apa yang tidak diinginkan terjadi, terjadilah. Dua puluh satu (21) orang meninggal dunia dan belasan orang luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit. Begitulah potret sebagian (semoga saja sebagian kecil) dari bangsa kita, uang gratis membuat sengsara dan malapetaka.
Tidak hanya uang, dalam dunia teknologi dan informasipun, ternyata sesuatu yang gratis menjadi magnet yang kuat untuk mendorong pengguna teknologi untuk memanfaatkannya. Email gratis, web hosting gratis, web blog gratis, domain gratis, software gratis (walaupun tidak gratis, orang berusaha mencari serial number gratisannya atau mencari software cracker nya), sistem operasi gratis, bahkan akses internetpun maunya yang gratis. Pada saat uang makin menjadi semakin tidak berharga, juga semakin sulit untuk didapatkan, maka mencari sesuatu yang gratis merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan yang dimiliki.
Postingan ini juga dikirimkan atas jasa-jasa yang gratisan itu. Kebetulan dibeberapa tempat di LPMP menyediakan hotspot yang bisa diakses gratis 24 jam nonstop. Lumayan untuk hiburan menghilangkan kejenuhan dan mengalihkan perhatian pada perut yang berusaha memberontak, menuntut adanya suplai tambahan.

NB: Bagi yang kesasar ke blog ini, maunya mencari tips akses internet gratis, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika anda harus kecewa tidak mendapatkan apa-apa disini.
Baca terus >>

16 September 2008

Workshop Guru Pemandu


Pada tanggal 16 sampai 19 September 2008 ini, saya mengikuti Workshop guru pemandu IPA di LPMP in service II. Pada saat in service I (bulan Juli), berjalan mulus dan lancar, walaupun untuk aplikasi di lapangan untuk memandu guru bidang studi IPA di Kab. Kendal (juga kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah) belum bisa dilaksanakan, karena terkedala masalah biaya. Kegiatan ini sebenarnya adalah untuk melaksanakan proposal kegiatan yang telah diajukan dengan dana 12,5 juta per proposal. Tetapi untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak (si Untung sedang tidak enak badan, Malang terlalu jauh dari Kendal), dana tersebut tidak dapat dicairkan.
Yang sangat istimewa dari workshop kali ini adalah pelaksanaannya yang bertepatan dengan bulan Puasa. Sebagaimana umumnya kita ketahui, pada bulan ini, karena asupan energi kimia dari bahan-bahan makanan yang kita makan berkurang, otomatis kinerja dari tubuh mengalami penurunan. Pada bulan selain bulan Puasa saja, kalau mengikuti pelatihan, workshop, seminar dll, pada siang hari mata terasa berat, lengket, maunya tidur. Apalagi bulan puasa, siang rasanya menjadi semakin panjang dan berat. Baru kali ini mengikuti kegiatan yang sedemikian menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Kesabaran, ketahanan dan keimanan sungguh sedang diuji.
Ya Allah, berilah kekuatan untukku agar dapat mengikuti kegiatan workshop ini dengan baik. Bukakan mata dan pikiranku untuk mengikuti semua materi yang diberikan oleh para widya iswara dan instruktur. Jadikan apa yang saya terima ini menjadi ilmu yang bermanfaat, tidak hanya untuk diriku sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Saya sadar dengan sesadar-sadarnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun, bahwa menimba ilmu apalagi di bulan Puasa ini banyak pahalanya. Jangan sampai kulewatkan pahala yang menari-nari didepan mataku ini.
Baca terus >>

12 September 2008

Hari Baik


Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang enggan untuk melaksanakan upacara pernikahan pada bulan Sura/Muharram. Upacara pernikahan paling banyak adalah pada bulan Maulud dan bulan Ruwah/Sya'ban. Bulan Sura bagi sebagian masyarakat adalah bulan yang tidak baik untuk melaksanakan pernikahan. Sementara pada bulan Ruwah/Sya'ban dan Maulud itu afdol untuk mengadakan upacara tasyakuran pernikahan.
Pernikahan, membangun rumah, memulai suatu usaha, khitan dan lain-lain merupakan contoh kegiatan yang penting dalam kehidupan seseorang, karena, dampak dari kegiatan tersebut akan berlanjut hingga beberapa tahun atau bahkan sepanjang hidup. Kegiatan-kegiatan seperti ini, oleh sebagian orang tidak boleh dilaksanakan secara sembarangan. Mulai dari persiapan, pendanaan, tenaga, uba rampe bahkan hari pelaksanaanpun harus diperhitungkan secara cermat dan teliti. Bagi sebagian orang yang lain menganggap bahwa semua hari itu baik, semua bulan itu baik. Tidak salah memang, tetapi untuk dikatakan betulpun juga belum bisa. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita tentu sudah akrab dengan waktu/hari yang terbaik diantara hari-hari /waktu-waktu yang baik. Sebagai contoh, waktu yang baik untuk berdoa adalah pada saat tengah malam menjelang subuh, diantara 7 hari ada satu hari yang istimewa yaitu hari Jum'at, diantara 12 bulan terdapat bulan yang sangat istimewa, bulan yang penuh barokah dan ampunan yaitu bulan Romadhon. Bahkan ada 1 malam pada bulan Romadhon yang sangat luar biasa istimewa karena 1 malam tersebut sama dengan waktu 1000 bulan atau 83,33333 tahun.
Jadi, tidak perlulah kita mempersoalkan jika ada saudara kita yang sangat peduli dengan hari baik. Karena diantara yang baik selalu ada yang terbaik. Diantara wanita yang cantik ternyata ada satu yang paling cantik yaitu istri kita (mungkin, jika bukan, berarti lampu merah untuk anda). Diantara berjuta bintang yang indah, ternyata hanya satu bintang yang paling indah, yaitu matahari. Diantara sekian banyak angka, ada angka yang istimewa yaitu angka 9 (angka berapapun jika dikalikan 9 selalu menghasilkan angka yang jumlahnya sama dengan 9), diantara makanan pokok, ada yang paling istimewa buat sebagian besar bangsa kita yaitu nasi. Diantara banyak tombol huruf pada keyboard, ada 3 tombol huruf yang istimewa, yaitu F, J dan 5, karena pada tombol huruf/angka tersebut terdapat tanda khusus berupa tonjolan berbentuk garis di bagian bawah, diantara tombol-tombol angka pada keypad hape, ada satu tombol yang dibuat lain dari yang lain yaitu pada angka 5 yang diberi tanda khusus berupa titik yang timbul/menonjol. Diantara jari-jari tangan kita, ada yang istimewa yaitu jempol/ibu jari, jika kita acungkan pada orang lain, maka orang tersebut akan tersenyum bangga, lain halnya jika yang kita tunjukkan adalah jari tengah tangan kita, bisa jadi kita babak belur dipukuli. Saya sengaja memberi contoh yang banyak dengan tujuan supaya postingannya panjang (yang pendek saja dibawa ke Mak Erot supaya panjang) Tentunya masih banyak contoh-contoh yang lain.
Baca terus >>

07 September 2008

Nama


Apalah arti sebuah nama. Demikian kata Shakespeare dalam puisinya. Judul ini berawal dari kelahiran putra teman saya. Sebagai putra pertama, sudah barang tentu kedua orang tuanya sangat bahkan amat bangga. Apalagi sang putra sangatlah tampan dan berkulit bersih.
Sudah menjadi kuajiban orang tua untuk memberi nama pada putra putrinya. Agama menganjurkan untuk memberikan nama yang baik. Karena dengan nama yang baik, yang disebutkan berulang-ulang didepan si anak, akan menjadi doa bagi masa depan anak tersebut. Teman saya tersebut mulai mencari nama yang baik. Ia lihat buku daftar nama-nama, kurang puas ia amati daftar nilai murid-muridnya, kurang puas lagi ia lihat buku telepon, barangkali ada nama yang sesuai dan cocok dengan keinginannya, tetapi masih nihil. Teringat pada pamannya yang di Amerika, yang bernama paman Google, maka iapun mulai googling, meluncur kesana dan kemari, barangkali menemukan nama yang tepat untuk putranya. Akhirnya, nama yang dicaripun ketemu, dan disematkan sebagai nama putranya.
Saat ini memang nama berpengaruh bagi si anak sendiri. Nama tidak cukup hanya baik maknanya, lebih dari itu juga harus mengikuti trend yang berkembang pada masanya. Sebaik apapun nama seorang anak, tetapi jika tidak sesuai dengan trend jamannya, akan membuat anak merasa minder, rendah diri dan tidak pede dalam pergaulannya. Sebaliknya, nama yang trendy tetapi tidak mempunyai makna dan arti yang baik, akan menjadikan beban bagi anak tersebut kelak di kemudian hari. Pada jaman dahulu kala, nama orang biasa diambil dari nama binatang yang menunjukkan kekuatan atau keperkasaan. Contohnya Gajah Mada, Mahesa Jenar, Kebo Ijo, dll. Kemudian di desa-desa sebelum berkembangnya era teknologi informasi biasa menggunakan nama-nama yang mudah, sederhana, konvensional dan sangat lugu seperti (in alphabelical order) Bejo, Bendol, Besar, Bugel, Cendol, Ciblek, Crobo, Cuplis, Duladi, Ganjel, Gaplek, Geneb, Ginem, Jimo, Jono, Joyo, Jumadi, Jumar, Juminem, Kapri, Karman, Karmin, Kasmo, Kemis, Kliwon, Kuat, Kunthet, Kuriman, Luwih, Mani, Ngatinem, Ngatini, Ngatiyem, Pahing, Paidi, Paimo, Patmo, Pon, Rebo, Rejeb, Ribut, Ruwah, Ruwet, Sapar, Sarengat, Sarjono, Sarmini, Satu, Sawal, Senin, Slamet, Sugeng, Sugik, Sujinah, Surat, Suro, Suyat, Temu, Tuginem, Tuginem, Tugiyem, Tumbu, Turah, Untung, Uplik, Urip, Wage, Wagiyo, Waras dan lain-lain.
Sementara nama-nama yang sedang trend saat ini untuk nama antara lain (in alphabetical order) Andy, Aries, Ary, Arya, Benny, Bob, Boby, Brury, Carly, Catty, Clara, Dedy, Dimas, Dody, Dona, Doni, Dora, Elly, Erni, Ery, Fandy, Farah, Fery, Hani, inge, inggrid, jhony, Lany, Leony, Lidya, Mike, Mince, Nancy, Raymond, Renaldi, Robert, Robet, Susi, Tania, Tony, Ussy, Vony, Weny, Yanuar dan masih banyak lagi.
Bagi orang-orang yang lahir sebelum eranya e titik-titik (e-learning, e-goverment, e-banking e-tc), dengan nama-nama yang sangat konvensional dan sudah out of date, untuk menambah kepercayaan diri, dengan mengambil bagian dari nama konvensional yang terdengar lebih moderen. Sebagai contoh namanya Tuginem panggilannya Ugi', Rebo dengan Boy, Jono dengan John, Sujinah dengan Ina dan lain-lain tergantung dari kreatifitas dan imajinasi masing-masing orang. Ada juga yang merasa namanya kurang marketable, kemudian mengganti namanya agar lebih marketable, bisa mendatangkan profit seperti yang banyak dilakukan oleh para artis.
Sebenarnya masih banyak yang bisa dikupas tuntas mengenai nama, akan tetapi saya tidak kupas tuntas untuk memberi kesempatan kepada blogger lain untuk membuat tema sama dengan kajian dan sudut pandang yang berbeda. Misalnya mengapa orang Jawa saat membuat nama harus pakai bubur merah, mengapa jika ada anak sakit-sakitan namanya harus diganti dan lain-lain.
Baca terus >>