09 Juni 2010

Hujan Salah Musim

Udan salah mangsa, itu kata nenek dan kakek moyangku, dalam bahasa Indonesianya sama dengan judul diatas. Memang benar apa yang dikatakan para ahli klimatologi, bahwa pada tahun 2010 ini, musim hujan lebih panjang. Buktinya, sampai saat ini, sudah memasuki bulan Juni 2010, hujanpun hampir tiap hari turun. Ramalan para nenek dan moyang kita dulu seolah sudah tidak berlaku lagi, pakem pembagian musim hujan mulai Oktober sampai Maret dan musim hujan mulai April sampai September sudah tidak memperlihatkan kepatuhannya lagi.


Bagi yang memiliki rumah mewah setidaknya yang representatif, dan lokasi yang aman dari banjir, tentu ketika berada dirumah, hujan selebat apapun tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi, bagi sebagian besar masyarakat termasuk saya, hujan lebat akan mengusik ketenangan. Paling banyak merepotkan adalah atap yang bocor. Apalagi genting tua yang belum model press, dengan bentuk cetakan yang tidak standar, ditambah dengan usia pakai yang sudah puluhan tahun mengakibatkan genting berubah bentuk. Mleyot sana dan mleyot sini. Bentuk genting yang sudah tidak standar inilah yang mengganggu mobilisasi air dari bagian atas ke bagian bawah atap rumah. Walhasil, air yang seharusnya mengalir melalui bagian atas genting, dengan tanpa permisi ada pula yang diam-diam menyelinap melalui bagian bawah genting. Dan, lantai didalam rumah pun akan mulai dibasahi dengan tetes demi tetes air hujan.
Ilmu yang saya dapatkan dari para sesepuh pun segera saya terapkan. Ambil ember, panci, toples plastik, serta apapun namanya yang penting bisa digunakan untuk memberikan tempat mendarat dan berkumpulnya tetesan air hujan.



Sebenarnya upaya untuk menanggulangi masalah bocoran dan tetesan air hujan di rumah sudah pernah dilakukan. Antara lain dengan plastikisasi, yaitu memberikan lapisan plastik dibawah genting. Akan tetapi, karena penghuni rumah saya tidak hanya manusia, tetapi juga ada mahluk lain yang kos (yang ini tidak pernah bayar) yaitu tikus. Tikus-tikus ini senang berbuat anarkis dengan melakukan perusakan terhadap fasilitas yang ada. Plastikpun menjadi bolong disini dan disana. Ketika hujan, plastik yang seharusnya sebagai pelindung, karena adanya lubang-lubang itulah air menjadi menemukan jalan pintas untuk segera menemui ibu pertiwi. Segala sumber dayapun segera saya kerahkan untuk mengatasinya, termasuk dengan mengganjal bagian plastik yang berlubang supaya menjadi lebih tinggi. Apapaun digunakan asal bisa untuk mengganjal, salah satunya dengan menggunakan sepatu.

Semoga ini tidak terjadi di rumah anda,

1 komentar:

Silahkan berkomentar