07 November 2009

Topless


 Kata wikipedia, “Toplessness is the state in which a female has her breasts uncovered, with her areolae and nipples visible, usually in a public space. The adjective topless may refer to a woman who appears in public, poses, or performs with her breasts exposed (a "topless model"); to an activity or performance that involves exposing the breasts ("topless sunbathing"; "topless dancing"); to an artistic, photographic, or filmic representation of a woman with her breasts uncovered (a "topless photograph"); to a place where female toplessness is tolerated or expected (a "topless beach"; a "topless bar"); or to a garment designed to reveal the breasts and the nipples (a "topless swimsuit")”. Gampangnya, kata kakek nenek saya, topless itu wanita yang tidak menutupi bagian payudaranya.


Kalau dilihat judulnya dan gambarnya, sungguh pemandangan yang sangat tidak berhubungan, dihubungkan dengan cara apapun tidak akan terhubung. Sebenarnya saya hanya ingin menulis tentang Toples dengan satu s bukan topless dengan dua s. Cuma, karena tombol kibornya sudah banyak yang seret, sekali tekan muncul s dua kali. Sekalian saja digunakan sebagai judul. Di negara barat sana, ada gerakan untuk memberikan kebebasan pada wanita untuk topless di tempat umum. Heboh yaa…….. Mungkin kiamat sudah dekat.

Toples yang satu s adalah wadah makanan ringan yang terbuat dari kaca atau plastik. Pada hari raya Idul Fitri, toples selalu nampang di atas meja, menyambut setiap tamu yang datang berkunjung silaturahim. Tidak pantas rasanya jika pada hari raya kemenangan tersebut, meja dibiarkan kosong melompong tanpa ada toples yang memenuhi meja.



Pada saat saya kecil dulu, sekitar tahun 70 – 80 an, ketika bersilaturahim, toples selalu menjadi sasaran “penjarahan”. Isi toples yang menjadi favorit saat itu adalah emping melinjo dan kacang goreng. Saku celana dan baju dipastikan menjonjol oleh makanan makanan yang bermigrasi dari dalam toples. Mungkin karena saat itu, makanan ringan termasuk barang langka, karena tidak setiap hari dirumah ada makanan ringan. Begitu hari raya Idul Fitri selesai, isi toples biasanya juga ikut selesai.



Lain dulu lain sekarang, jaman berubah, tingkat kesejahteraan masyarakat juga berubah. Makanan, baik yang berat maupun yang ringan (setidaknya di Jawa) saat ini bukan merupakan barang yang sulit untuk di dapat, kecuali uang untuk membelinya. (walaupun mungkin di beberapa daerah, tetap saja makanan merupakan barang langka). Hari raya sudah berlalu hampir 1,5 bulan. Tetapi, toples masih juga nongkrong di atas meja. Isinya pun belum habis walaupun belum pernah di isi ulang. Anak-anak sekarang tidak terlalu bernafsu melihat makanan ringan dalam toples.



Entah makanan apa yang diinginkan anak-anak jaman sekarang..


1 komentar:

  1. walah, topless di rumah saya malah sudah mengalami proses isi ulang berkali-kali pak jai, hehe ....

    BalasHapus

Silahkan berkomentar