31 Juli 2009

Refleksi Ujian Nasional 2009


Tulisan ini sungguh sudah ketinggalan jaman. Sudah banyak yang mengulas, dan merupakan cerita basi, busuk, tidak higenis dan tidak layak saji. Jadul kata anak sekarang. Tapi ya biarlah dikatakan jadul, ketinggalan jaman, tidak aptudet, dan teman-temannya. Memang ini adalah salah satu bentuk betapa tidak niatnya pemilik blog ini untuk mengapdet isi blognya. Orang tua bilang, biar telat asal selamat.
Bagi yang tetap ingin baca-baca, ya silahkan, yang merasa eneg, mangga kalau mau segera cabut.

Pro dan kontra masalah ujian nasional harus diadakan atau tidak masih terus bergulir. Sebagai guru, mau pro atau mau kontra tentunya tetap saja harus menjalankan tugasnya, melaksanakan evaluasi pada akhir satuan pendidikan. Evaluasi atau lebih mudahnya disebut ujian untuk empat mata pelajaran di tingkat SMP adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA, dilakukan oleh pemerintah pusat yang dilaksanakan oleh suatu badan yang disebut BSNP. Soal untuk keempat mata pelajaran untuk seluruh nusantara memiliki standar yang sama.
Ujian Nasional 2009 telah usai. Siswa dan siswi SMA, SMP, SMK, MA dan MTs telah melaksanakannya, pengumuman telah disamaikan, hasil ujian telah diketahui, ijazah dan SKHUN juga telah (akan) diserahkan. Ada yang senang, tentu ada juga yang harus bersedih. Itulah yang bernama ujian, jika tidak berhasil, tentunya ya gagal. Jika berhasil, itu yang disebut lulus. Itu merupakan hasil yang dipetik setelah penanaman dan pemeliharaan selama 3 tahun lamanya. Kini bagi siswa siswi yang lulus tentu tinggal menunggu dibagikannya selembar kertas berharga yang bernama IJAZAH dan selembar lagi yang bernama SKHUN. Setelah itu, tentu tinggal melihat minat serta kemampuan masing-masing siswa. Ada yang melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi, ada juga yang terpaksa harus berhenti sekolah.
Ya, hasil ujian nasional merupakan hasil jerih kepayahan banyak pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan tentunya yang paling dominan adalah dari siswa itu sendiri. Hasil yang didapatkan dapat digunakan untuk berkaca, baik oleh siswa itu sendiri, orang tua, guru, sekolah juga pemerintah, apakah selama ini pendidikan yang telah dilalaui itu sudah sesuai dengan yang diharapkan?
Bagi guru, tentu hasil ujian nasional 2009 ini dapat digunakan untuk mengkoreksi diri, apakan pengajaran yang dilakukan itu sudah benar atau belum, mungkin ada strategi yang kurang, atau perlu media pembelajaran yang lebih baik dan sebagainya.
Di kabupaten Kendal, beberapa sekolah negeri nilai rata-rata ujian nasionalnya mungkin hampir sama dengan nilai ujian nasional tahun sebelumnya, ada yang meningkat, tapi juga ada yang turun, walaupun tidak banyak. Akan tetapi, jika dilihat dari peringkat yang diurutkan dberdasarkan rata-rata ujian nasional tahun 2009, banyak sekolah negeri yang terperosok ke peringkat yang jauh dibawah. Penyebabnya tidak lain adalah banyak sekolah swasta yang mengalami peningkatan nilai rata-rata ujian nasional dibanding tahun sebelumnya.
SMP Negeri 2 Brangsong tempat saya mengabdi, pada tahun tahun sebelumnya berada pada kisaran peringkat 20-30. Pada tahun 2009 ini, turun drastis ke peringkat 53. SMP negeri 2 Pegandon tempat guru teladan dan blogger kondang dengan kemampuan tidak diragukan, pak Sawali bahkan harus tersungkur ke peringkat 91. Sungguh merupakan suatu hasil yang jauh dari perkiraan. Sementara di lain pihak, banyak SMP swasta yang mengalami lompatan jauh ke depan. Peringkat yang mereka dapatkan menggeser sekolah-sekolah negeri yang selama ini bertahan pada posisinya masing-masing.
Ini adalah hal yang memalukan kita sebagai pendidik khususnya yang mengajar di sekolah negeri. Banyak diantara kita sudah bergelar guru professional karena lolos sertifikasi, tingkat pendidikan yang memadai, gaji yang lebih baik dari guru swasta, juga mata pelajaran yang diampu sudah sesuai dengan bidangnya, fasilitas sekolah yang lebih lengkap juga input siswa yang lebih baik. Mengapa kalah dengan guru-guru di sekolah swasta yang konon banyak yang belum professional, mengajar banyak yang tidak pada bidangnya, fasilitas sekolah yang minim, input siswa yang umumnya dibawah sekolah negeri, dan tentu banyak juga mereka digaji dengan standar masih di bawah UMR.
Saatnya guru negeri untuk berbenah diri, mempersiapkan ujian nasional tahun 2010. mungkin banyak dari kita yang terlena dengan input siswa sekolah negeri yang rata-rata lebih baik dari sekolah swasta sehingga seenaknya dalam menjalankan tugas mengajar. Mungkin metoda yang kita gunakan membosankan siswa kita. Kedekatan emosi dengan siswa juga bisa menjadi enggannya siswa memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru. Tidak ada salahnya kita bertukar pikiran kepada guru swasta tentang cara meningkatkan prestasi ujian nasional. Kita harus bersaing, jangan sampai dana pemerintah yang dikucurkan menjadi sia-sia, karena hasil yang didapatkan dibawah sekolah swasta yang tidak banyak mendapat dukungan dana pemerintah.
Guru sekolah negeri harus pinter tanpa harus keblinger.

2 komentar:

  1. bukan tulisan basi atau ketinggalan zaman kok pak jai. un sampai kapan pun akan tetap aktual ditulis. akan jadi basi kalau blog ini tak pernah di-update, wakaka ... tapi saya tak risau kalau tingkat kelulusan anak2 ancur, pak. anak2 memang perlu ditanamkan pentingnya menghargai nilai2 kejujuran. ini yang akan memberikan dampak positif buat masa depan mereka sendiri.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar