27 April 2009

Ujian Nasional 2009


Mungkin anda sudah bosan membaca artikel atau posting tentang ujian, apalagi ujian nasional. Banyak sudah situs maupun web yang mengulas baik secara tuntas maupun cuma setengah tuntas atau bahkan tidak tuntas sama sekali (artikel ini termasuk didalamnya). Memang pada bulan April sampai Mei, tema tentang ujian menjadi tema yang hangat dan aptudet, dan mungkin akan banyak membuat para googler dan yahooer yang tersesat, maunya cari bocoran soal ujian, tapi nyasarnya ke artikel-artikel yang tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
Lalu bagaimana dengan artikel ini?

Yap, mungkin tidak jauh dengan yang lain. Jika mungkin anda merasa males membacanya ya tidak apa-apa, toh juga tidak berdosa. Cuma, jika berkenan, tinggalkanlah sedikit jejak kehadiran anda di komentar ataupun shoutbox, saya akan sangat berterima kasih. Jika anda merasa suka, ya silahkan dibaca dari awal hingga akhir, kalimat perkalimat, kata per kata, huruf per huruf. Jika ada yang bermanfaat, ya itu harapan saya, jika tidak bermanfaat, lupakan saja, silahkan delete informasi yang sudah terlanjur tersave di otak, atau kalau perlu diformat sekalian, agar tidak menjadi beban dan akhirnya menjadi sampah informasi tanpa arti tanpa guna.
Disini saya hanya ingin mengungkapkan uneg-uneg yang sering bikin eneg seorang guru yang mengajar di sebuah sekolah yang jauh dari riuh rendahnya dan hiruk pikuknya bimbingan belajar dan les privat. Seorang guru sudah semestinya mengajar dalam arti memberikan ilmu kepada murid-muridnya sesuai dengan acuan yang sudah ditetapkan dalam kurikulum. Setiap hari seorang guru harus berteriak-teriak hingga mengeringkan tenggorokan, menguras tenaga mengeluarkan busa di depan kelas dihadapan murid-muridnya. Ya seperti itulah semestinya seorang guru, dan semua guru.
Pada akhir masa pendidikannya, setiap murid harus menempuh evaluasi yang dinmakan ujian nasional. Memang dalam evaluasi, yang boleh melakukan evaluasi adalah guru, sekolah dan pemerintah dalam hal ini disebut ujian nasional. Jadi, hemat saya tidak perlu diperdebatkan lagi tentang perlu ada atau tidak adanya ujian nasional. Itu menjadi hak pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap siswa setelah menempuh jenjang pendidikan tertentu. Jika guru mau berbaik sangka, itu merupakan bentuk evaluasi terhadap guru itu sendiri, bagaimana mereka mengajar murid-muridnya. Harapannya, jika pembelajarannya baik sesuai dengan aturan yang telah ditentukan, maka hasilnya tentu akan baik (kecuali jika memang kemampuan bawaan dari siswa itu sendiri yang memang kurang). Tetapi jika guru dalam pembelajarannya juga asal-asalan, ya hasilnya pun akan jauh dari yang diharapkan. Celakanya, guru garis miring sekolah yang mengadakan pembelajaran secara asal-asalan ini akan berusaha untuk menutupi kekurangannya dengan mencari daya dan upaya secara ilegal inkonstitusional untuk mendongkrak hasil ujian nasional.
Sudah menjadi kesalahan masyarakat bahwa kualitas sekolah dan guru semata-mata hanya dilihat dari hasil dalam hal ini Ujian Nasional, bukan pada proses. Diperparah lagi keputusan pemerintah yang menjadikan hasil ujian nasional sebagai tolok ukur kelulusan siswa. Maka, sekolah akan berlomba-lomba untuk meningkatkan prosentase kelulusannya. Ada yang menggunakan cara yang jentelmen dan legal konstitusional, ada juga yang menghalalkan segala cara. Lalu ini menjadi salah siapa?
Sedikit kebanggaan seorang guru adalah jika masih dihargai dan dihormati oleh murid-muridnya. Apa yang disampaikan baik itu pelajaran maupun wejangan didengarkan. Apa yang diperintahkan dipatuhi, apa yang dilarang dijauhi. Hal tersebut akan terwujud jika guru dan sekolah berlaku jujur, salah satunya dalam pelaksanaan ujian nasional. Seorang keponakan yang sekolah di sekolah x (tentu bukan sekolah saya, sungguh) pada saat semester 2 kelas 9, hampir setiap hari hanya bermain dan nyantai saja. Jarang (sebenarnya malah tidak pernah) sekali dia belajar. Sebagai paman yang bertanggung jawab (hwuek....) tentunya mengingatkan. "mbok belajar, wong sudah kelas 9 mau ujian". Tapi jawabannya sungguh jauh dari harapan, "paling besok waktu ujian diberi tahu sama gurunya kok." ?????? Saya pun bertanya lagi "Gurumu bilang begitu?" Jawabannya "ya tidak, tapi kakak kelas yang sudah lulus bilang begitu, kalau ujian diberi jawaban oleh gurunya".
Nah, kalau sudah begini, siswa jelas tidak akan lagi punya semangat untuk belajar. Buat apa bersusah kepayahan memeras otak belajar, jika ujian diberi jawaban. Maka, sayapun cuma berpesan pada si keponakan tadi agar mau belajar, "Iya kalau gurumu bisa dan punya kesempatan untuk memberi jawaban, lha kalau tidak, pengawasan ujian dari tahun ke tahun makin ketat lho. tiwas kamu tidak belajar, jebul gurumu tidak bisa memberi jawaban, kamu mau apa hayo? Mringis kamu".
Dari cerita tersebut kemudian saya membayangkan, andaikata saya memberikan jawaban atau dipaksa memberikan jawaban Ujian Nasional, maka tidak perlu lagi ada kegiatan pembelajaran di kelas selama 6 tahun untuk SD atau 3 tahun untuk SMP dan SMA. Liburkan saja muridnya, berangkat besok waktu ujian saja. Jelas itu akan meringankan beban. Buat apa capek-capek mengajar kalau muridnya saja sudah tidak peduli dan tidak memperhatikan pelajaran. Bukan begitu? Guru berangkat kerja kalau ujian saja untuk membuatkan jawaban soal-soal ujiannya. Mengajar menjadi pekerjaan yang kontra produktif, tidak bermanfaat dan tidak ada gunanya lagi.
Lain ceritanya kalau guru dan sekolah berlaku jujur dalam pelaksanaan ujian. Guru dan sekolah hanya sebatas mengajarkan pelajarannya saja. Untuk ujian tentu harus siswa sendiri yang mengerjakan. Disini siswa akan berpikir dengan sendirinya (walaupun ada juga siswa yang tetap saja tidak berpikir) bahwa supaya lulus ujian, ya harus dapat mengerjakan soal ujian, supaya dapat mengerjakan soal ujian ya harus belajar dan memperhatikan guru waktu diajar. Dengan demikian guru akan tetap diperhatikan, didenganrkan dan dihormati.
Tentu saja pendapat saya tidak semuanya benar, karena memang kasus pendidikan di Indonesia ini masih sangat pelik mulai dari tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan ilmunya, sarana prasarana sampai pembiayaan yang masih jauh dari cukup. Semoga Ujian Nasional pada tahun 2009 ini berjalan dengan jujur, aman dan sukses. Semoga bagi siswa yang menempuh ujian juga diberi keterangan fikiran, kemudahan dalam belajar, ketenangan hati, hingga dapat mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.

4 komentar:

  1. saya selalu sedih setiap memasuki semster 2, pak jai. rutinitas tahunan itu telah membuat inovasi pembelajaran jadi mandul karena semua tenaga dan pikiran mesti fokus ke UN. yang repot, banyak pihak yang kehilangan rasa pede hingga mereka melakukan segala cara utk mengatrol nilai UN. repot deh!

    BalasHapus
  2. Betul pak sawali, rasanya ngajar satu semester seperti ngajar 3 tahun.

    BalasHapus
  3. rasanya perlu terobosan baru untuk mensiasati agar UN tidak menjadi momok bagi siswa-siswi pak

    BalasHapus
  4. berdoa aja pada allah, hanya allah yang bisa membawa kita ke tenangan hidup

    BalasHapus

Silahkan berkomentar