24 Februari 2009

Po Nari?


HEBAT... begitulah kira-kira kata yang pas untuk sikecil super sakti Ponari dari Jombang Jawa Timur. Betapa tidak, dalam 1 hari dia bisa mengobati ribuan pasien. Suatu angka yang tidak (mustahil) dilakukan oleh seorang dokter profesional sekalipun. Karena, dalam mengobati pasien, seorang dokter haruslah melalui beberapa tahapan. Dalam membuat diagnosis, maka dokter harus membuat anamnesis yang hasilnya berupa kumpulan gejala-gejala keluhan pasien, kemudian melakukan pemeriksaan fisik, dan jika perlu melakukan permeriksaan penunjang seperti uji laboratorium, rontgen, USG dll. Hal ini tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dokter pun tidak boleh gegabah dalam melakukan diagnosis agar pengobatan yang diberikan menjadi tepat dan meminimkan efek samping dari pengobatan atau tindakan yang dilakukan oleh dokter. Dengan proses yang sedemikian panjang (khususnya untuk penyakit yang tergolong berat), tentu dokter tidak mungkin dapat melakukan pemeriksaan apalagi penyembuhan ribuan orang dalam satu hari.
Lain dokter lain pula Ponari. Untuk melakukan penyembuhan tidak perlu anamnesi, diagnosa, pemeriksaan fisik apalagi pemeriksaan penunjang. Bahkan bagi orang yang sakit parah dan tidak dapat bertemu dengan Ponari, cukup dengan menitipkan foto atau KTP pun bisa. Hanya dengan mencelupkan batu keramat yang jatuh dari langit, maka air itu bisa digunakan sebagai obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit. Proses pemberian obat (air yang dicelupi air) sedemikian cepat, mungkin hanya 1 detik, maka tidaklah heran kalau dalam satu hari Ponari dapat memberikan layanan pengobatan kepada ribuan pasien.
Fenomena dukun cilik Ponari ini sangat menarik, hingga diberitakan di berbagai media selama beberapa hari. Hal ini perlu menjadi pemikiran bersama, mengapa orang lebih suka berbondong-bondong dan berduyun-duyun untuk berobat ke rumah dukun Ponari dibandingkan berobat ke puskesmas, rumah sakit atau dokter. Beberapa alasan seperti yang diungkap media antara lain karena berobat di Puskesmas, rumah sakit apalagi dokter masih mahal. Pemerintah dituding belum bisa memberikan layanan kesehatan yang murah dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Pihak penjamin kesehatanpun seperti ASKES dan ASKESKIN belum mampu memberikan pelayanan yang maksimal, seperti masih banyak obat yang tidak masuk daftar sehingga pasien harus membeli. Layanan kesehatan milik pemerintah yang dikatakan murahpun masih dikeluhkan oleh pasien karena layanannya yang terkesan asal-asalan (walaupun tidak semua seperti itu), berbeda jauh dengan layanan kesehatan yang dimiliki swasta walaupun tentu dengan biaya yang sangat mahal.
Selain itu, banyak juga pasien yang enggan berobat pada dokter karena rasa takut. Misalnya pasien dengan penyakit dalam, maka dokter kemungkinan besar akan melakukan operasi. Operasi merupakan salah satu cara penyembuhan yang teramat sangat menakutkan bagi sebagian besar pasien (disamping biaya operasi yang memang tidak sedikit). Sebisa mungkin mereka memilih untuk tidak dioperasi. Maka Ponarilah (mungkin) jalan keluarnya.
Hal-hal irasional memang sudah berakar dalam dalam masyarakat kita, maka pengobatan ala Ponari inipun bukanlah hal yang aneh. Banyak cara-cara penyembuhan nenek moyang bangsa kitapun sebagian besar dengan cara-cara irasional seperti cara yang dilakukan Ponari. Selain Ponari masih banyak juga dukun-dukun yang menggunakan cara pengobatan secara irasional seperti dengan menggunakan telur ayam, air, bunga-bunga, keris dan lain sebagainya. Dari sekian dukun yang beroperasi dan membuka praktek, memang tidak ada yang sefenomenal Ponari. Dukun yang didatangi pasien dengan jumlah 100 sehari itu sudah luar biasa, tetapi kalau sampai 10.000 perhari?
Mendadak Ponari berubah menjadi selebritis. Kemakmuran karena praktek Ponari mengangkat derajat dirinya, keluarganya, dan masyarakat sekitarnya. Walaupun pasien tidak ditarik biaya, kecuali memberi seikhlasnya, nyatanya Ponari menjadi milyarder cilik dadakan. Sebuah stasiun TV swasta yang mengadakan investigasi pendapatan Ponari, jika dalam satu hari ada 5.000 pasien yang berobat, masing-masing memberi Rp. 5.000, maka dalam satu hari dia mendapat Rp. 25.000.000. (Itu setara dengan gaji guru yang hampir tiap hari berteriak-teriak didepan kelas selama satu tahun). Jika dalam satu bulan beroperasi 30 hari, maka kantong ponari akan dijejali uang Rp. 750.000.000. Fantastis untuk anak sekecil itu bisa mendapat uang sebanyak itu hanya dalam satu bulan.
Kemakmuran keluarga Ponari dan masyarakat sekitar tentu ada tebusannya, hilangnya masa kanak-kanak Ponari. Seusianya masih dalam usia bermain dengan teman sebayanya. Main layang-layang, kejar-kejaran, mandi di sungai dan lain-lain. Tetapi dengan banyaknya pasien, jangankan bermain, untuk keluar rumahpun memerlukan PASPAMPON (pasukan pengamanan Ponari). Jangankan untuk bermain, untuk sekolahpun menjadi tidak ada waktu. Dalam tayangan TV terlihat jelas keletihan yang tampak di wajah Ponari ketika digendong untuk mencelupkan batu ajaibnya ke air yang dibawa pasien. Kasihan engkau Ponari....
Sebagai penutup, memang Allah SWT menciptakan penyakit, dan Ia pun tentu menciptakan obatnya. Bisa berupa obat dari dokter, obat dari jamu, dan bisa jadi dari batu sakti milik Ponari. Obat dan sejenisnya hanyalah alat, hakekatnya yang memberi kesembuhan adalah Allah. Satu hal yang perlu diingat, bahwa kesembuhan tentu karena Allah SWT. Jadi janganlah menjadi syirik dan menjadi lebih percaya karena alat penyembuhnya daripada kepada Allah. Semoga kita dijauhkan dari sifat Syirik.

2 komentar:

  1. betul banget, pak jaitoe, Alah menciptakan penyakit, pasti ada obatnya dengan melalui berbagai perantara. ponari bisa jadi termasuk salah satu di antara perantara itu. meski demikian, saya sedih menyaksikan fenomena itu, pak. ribuan orang yang berjubel meminta kesembuhan pada ponari menunjukkan kalau mereka sudah pasrah pada nasib akibat pelayanan kesehatan dari pemerintah yang buruk. selain itu, ponari juga telah kehilangan kesejatian dirinya sebagai anak2.

    BalasHapus
  2. Ponari kon melu OSN wae Pak, rak usah mbimbing...
    Salah satu bukti bahwa sekolah bukan satu2nya sarana menjadi kaya...

    BalasHapus

Silahkan berkomentar