02 November 2008

BBM oh BBM (Bahan Bakar Mahal)



Harga minyak mentah dunia turun tajam. Dunia menyambut dengan suka dan cita serta gembira. Setelah harga minyak bertengger di atas 100 USD per barel selama beberapa bulan, akhirnya turun juga di bawah 100 USD per barel. Entah apa hubungannya dengan krisis perekonomian yang dialami negeri yang bermata uang USD tersebut, toh saya juga memang bukan ahli ekonomi, yang jelas setelah Amerika mengalami krisis, harga minyak mentah menjadi turun.
Negara tetangga Malaysia, demi mendengar turunnya harga minyak mentah dunia, dengan serta dan merta menurunkan BBM yang dijual kepada masyarakat. Bahkan dalam 1 bulan, mereka menurunkan harga bahan bakar sampai 3 kali. Rakyat bisa plesar plesir karena tidak takut kantong cepet bolong.
Bagaimana dengan di Indonesia? Nah ini dia masalahnya. Harga petramax (bukan pertamax yang sering muncul di komentar pertama postingannya pak Sawali) karena non subsidi tentu langsung turun dengan sendirinya, tanpa melalui sidang, rapat apagi keputusan menteri. Tetapi untuk bahan bakar bersubsidi, harganya tetap tidak berubah seiring perubahan harga minyak dunia. Sebagai seorang yang bukan ahli ekonomi, hal ini tentu akan sangat membingunkan. Pemerintah beralasan jika harga BBM bersubsidi tidak turun karena telah ditetapkan dalam APBN yang berlaku setahun. Dengan alasan itu pulalah pemerintah enggan menurunkan harga BBM (kalau turunpun paling cuma sedikit), karena mereka tidak mau repot mengadakan revisi APBN. Akan dan tetapi, pada saat harga minyak dunia mengalami kenaikan, cepat sekali keluar keputusan tentang kenaikan harga BBM, APBN pun direvisi, dengan alasan, jika harga minyak tidak naik, maka negara akan bangkrut.
Begitu mudahnya revisi APBN ketika harga BBM akan dinaikkan. Tetapi ketika harga BBM seharusnya turun, eee.... ternyata berat sekali menurunkannya. Alasannya sudah menjadi harga dasar yang telah ditetapkan dalam APBN yang berlaku selama satu tahun, dan berbagai alasan untuk dijadikan sebagai pembenar tidak turunnya harga BBM. Beginikah bentuk kepedulian pemerintah terhadap rakyatnya, mudah menaikkan tetapi sulit menurunkan?....

4 komentar:

  1. memang bener2 menimbulkan tanda tanya, pak jaitoe. ketika harga minyak mentah naik, pemerintah dg cepat bereaksi dg merevisi apbn, giliran turun, ufh, anggaran dibiarkan meluncur. piye toh iki?

    BalasHapus
  2. harga minyak dunia naik, pemerintah ikut naikin, alasannya biaya produksi yg tinggi tidak mencukupi utk lakukan subsidi bbm...
    harga minyak dunia turun, pemerintah tdk langsung turunin harga bbm, alasannya pendapatan dari minyak turun sehingga tidak bisa lakukan subsidi bbm...
    Sungguh, pada akhirnya rakyat yang diakali...
    *Maaf, baru tahu kl dr kendal jg. Saya masukkan ke daftar pisowanan blogger stlh pak Mar dan pak Wahyu... Boleh kan?
    **Kl ninggalin alamat url di blog saya mohon tdk pakai co.nr, pakai saja alamat asli di blogspot, karena blog saya menganut dofollow, sehingga backlink utk blogspot bukan ke co.nr, dan commentluv bs mem-parse last blog post dengan mudah. Maaf lho...

    BalasHapus
  3. BBM, BMB, MBB adalah suatu permutasi 3 unsur, dengan 2 unsur sama.
    Rumusnya masih ingat?

    BalasHapus
  4. pusing mikirin BBM pak, saya juga

    BalasHapus

Silahkan berkomentar