07 September 2008

Nama


Apalah arti sebuah nama. Demikian kata Shakespeare dalam puisinya. Judul ini berawal dari kelahiran putra teman saya. Sebagai putra pertama, sudah barang tentu kedua orang tuanya sangat bahkan amat bangga. Apalagi sang putra sangatlah tampan dan berkulit bersih.
Sudah menjadi kuajiban orang tua untuk memberi nama pada putra putrinya. Agama menganjurkan untuk memberikan nama yang baik. Karena dengan nama yang baik, yang disebutkan berulang-ulang didepan si anak, akan menjadi doa bagi masa depan anak tersebut. Teman saya tersebut mulai mencari nama yang baik. Ia lihat buku daftar nama-nama, kurang puas ia amati daftar nilai murid-muridnya, kurang puas lagi ia lihat buku telepon, barangkali ada nama yang sesuai dan cocok dengan keinginannya, tetapi masih nihil. Teringat pada pamannya yang di Amerika, yang bernama paman Google, maka iapun mulai googling, meluncur kesana dan kemari, barangkali menemukan nama yang tepat untuk putranya. Akhirnya, nama yang dicaripun ketemu, dan disematkan sebagai nama putranya.
Saat ini memang nama berpengaruh bagi si anak sendiri. Nama tidak cukup hanya baik maknanya, lebih dari itu juga harus mengikuti trend yang berkembang pada masanya. Sebaik apapun nama seorang anak, tetapi jika tidak sesuai dengan trend jamannya, akan membuat anak merasa minder, rendah diri dan tidak pede dalam pergaulannya. Sebaliknya, nama yang trendy tetapi tidak mempunyai makna dan arti yang baik, akan menjadikan beban bagi anak tersebut kelak di kemudian hari. Pada jaman dahulu kala, nama orang biasa diambil dari nama binatang yang menunjukkan kekuatan atau keperkasaan. Contohnya Gajah Mada, Mahesa Jenar, Kebo Ijo, dll. Kemudian di desa-desa sebelum berkembangnya era teknologi informasi biasa menggunakan nama-nama yang mudah, sederhana, konvensional dan sangat lugu seperti (in alphabelical order) Bejo, Bendol, Besar, Bugel, Cendol, Ciblek, Crobo, Cuplis, Duladi, Ganjel, Gaplek, Geneb, Ginem, Jimo, Jono, Joyo, Jumadi, Jumar, Juminem, Kapri, Karman, Karmin, Kasmo, Kemis, Kliwon, Kuat, Kunthet, Kuriman, Luwih, Mani, Ngatinem, Ngatini, Ngatiyem, Pahing, Paidi, Paimo, Patmo, Pon, Rebo, Rejeb, Ribut, Ruwah, Ruwet, Sapar, Sarengat, Sarjono, Sarmini, Satu, Sawal, Senin, Slamet, Sugeng, Sugik, Sujinah, Surat, Suro, Suyat, Temu, Tuginem, Tuginem, Tugiyem, Tumbu, Turah, Untung, Uplik, Urip, Wage, Wagiyo, Waras dan lain-lain.
Sementara nama-nama yang sedang trend saat ini untuk nama antara lain (in alphabetical order) Andy, Aries, Ary, Arya, Benny, Bob, Boby, Brury, Carly, Catty, Clara, Dedy, Dimas, Dody, Dona, Doni, Dora, Elly, Erni, Ery, Fandy, Farah, Fery, Hani, inge, inggrid, jhony, Lany, Leony, Lidya, Mike, Mince, Nancy, Raymond, Renaldi, Robert, Robet, Susi, Tania, Tony, Ussy, Vony, Weny, Yanuar dan masih banyak lagi.
Bagi orang-orang yang lahir sebelum eranya e titik-titik (e-learning, e-goverment, e-banking e-tc), dengan nama-nama yang sangat konvensional dan sudah out of date, untuk menambah kepercayaan diri, dengan mengambil bagian dari nama konvensional yang terdengar lebih moderen. Sebagai contoh namanya Tuginem panggilannya Ugi', Rebo dengan Boy, Jono dengan John, Sujinah dengan Ina dan lain-lain tergantung dari kreatifitas dan imajinasi masing-masing orang. Ada juga yang merasa namanya kurang marketable, kemudian mengganti namanya agar lebih marketable, bisa mendatangkan profit seperti yang banyak dilakukan oleh para artis.
Sebenarnya masih banyak yang bisa dikupas tuntas mengenai nama, akan tetapi saya tidak kupas tuntas untuk memberi kesempatan kepada blogger lain untuk membuat tema sama dengan kajian dan sudut pandang yang berbeda. Misalnya mengapa orang Jawa saat membuat nama harus pakai bubur merah, mengapa jika ada anak sakit-sakitan namanya harus diganti dan lain-lain.

8 komentar:

  1. Kalau nama BLOG kok aneh2 ya Pak. Bebas lepas tanpa batas. Kalau Mas Rochman namanya keArab2an, kalau saya kan keJawen.
    Tapi semua sama wong kita satu planet, ya planet bumi...

    BalasHapus
  2. banyak orang tua zaman dulu yang memberikan nama aneh2, pak, biasanya langsung diambil hari wetonnya sehingga ada nama senin, rebo, kemis, setu. tapi kok saya arang denger ada nama selasa, jumat, atau minggu. kenapa, pak jaitoe, hhehehehe .....

    BalasHapus
  3. apalah arti sebuah nama yg dipakai untuk menyebut mawar sekuntum? disebut dengan nama apapun baunya tetap saja harum.

    BalasHapus
  4. @pak Mar
    Memang kita tidak perlu memandang nama, kita sama-sama manusia yang hidup di bawah matahari yang sama, dibawah bulan yang sama (kata Scorpion yg judulnya lagunya saya lupa, kurang lebih liriknya "'Cos We are, live under the same sun, We are live under the same moon)
    @pak Sawali
    Nama Selasa, Jum'at dan Minggu mungkin menurut anggapan orang-orang tua kita kurang marketable :)
    Oh ya, menurut nama, bulan depan panjenengan ulang tahun ya. Selamat Ulang tahun yang ke sekian, semoga panjang umur, awet muda dan tetap ngeblog.
    @siti jenang
    Sama saja dengan (maaf) tahi kucing disebut apa saja tetap saja bau, apalagi yang setengah kering, wuihhh.. mantab baunya.

    @semua
    Terimakasih komentarnya

    BalasHapus
  5. Nama memang doa bagi orang tua untuk anaknya, jangan sampai kita ngasih nama anak kita asal-asalan pak nanti anak jadi ndak pede dan akhirnya kita juga yang repot pak

    BalasHapus
  6. Mr. Rochmaniac, mending buka iklan biro pembuatan nama, murah dan dapat dipercaya, jaminan mutu ISO 9001. Ternyata kalo orang gampang ngantuk itu ideny kok tidak ngantuk ya ....

    BalasHapus
  7. nama adalah kebanggaan tapi sudahkah kita bangga dengan nama pemberian Orang tua kita

    BalasHapus
  8. sebuah nama membawa arti sendiri dalam kehidupan seseorang, bahkan nenek moyang menurunkan tradisi dalam pemberian nama kepada seorang anak... semisal yang sudah anda sebutkan yaitu dengan bancaan bubur merah maupun jajan pasar... terlepas itu semua tergantung dari keyakinan pribadi masing-masing

    BalasHapus

Silahkan berkomentar