20 Agustus 2008

Hidoep Ataoe Mati


Slogan ini sering kita baca dengar lihat di berbagai media yang bercerita tentang perjuangan para pejuang dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan negara INDONESIA. Hidoep merdeka adalah impian bangsa ini, lepas dari jeratan belenggu penjajah yang serakah menjarah hasil jerih payah bangsa INDONESIA. Hidoep merdeka berarti bebas menentukan nasib, menentukan masa depan lepas dari kemauan para penjajah. Hidoep merdeka berarti segala sumber daya yang ada di negeri ini, demi kemakmuran bangsa.
Jika tidak dapat hidoep merdeka, maka lebih baik mati berkalang tanah, memperjuangkan keyakinannya, kesetiaannya, juga nama baiknya sebagai bangsa. Mati raganya, bukan berarti mati semangatnya.
Demikian besar pengorbanan para pahlawan yang telah gugur mendahului kita maupun yang belum gugur dan hidup sengsara. (beberapa kali di TV ditayangkan kisah hidup para pejuang yang sengsara di masa tuanya). Apakah slogan hidoep ataoe mati masih relevan di masa sekarang ini? Jawabannya tidak, sekarang slogan itu sudah diganti koeroepsi ataoe mati. Jika ingin tetap hidup ya harus koeroepsi, jika tidak, ya bakal mati. Baca di radio, dengarkan di koran, juga di media lain, pejabat-pejabat yang sudah di gaji besar dari uang rakyat, ternyata masih koeroepsi. Koeroepsi menjadi budaya. Yang tidak koeroepsi harus bersiap untuk mati.
MERDEKA..........................
Ya Allah, ampunilah bangsaku yang bejat ini.

5 komentar:

  1. itulah yang terjadi di Negara ini pak, sesuatu yang haram dan dilarang malah dijadikan budaya, sampai kapan kita terus seperti ini

    BalasHapus
  2. Senengnya aku kpd bangsa ini yg msh punya anak2 bangsa yg tidak cuma prihatin dalam hidup tapi juga memprihatinkan nasib bangsa ini. So apa action nyata kita ?????

    BalasHapus
  3. Sayangnya, yang prihatin pada nasib bangsa ini adalah orang-orang yang sebenarnya kehidupannya juga masih memprihatinkan. Yang hidupnya sudah tidak memprihatinkan biasanya sudah tidak prihatin lagi pada nasib bangsa ini.

    BalasHapus
  4. saya lebih suka memilih hidup merdeka daripada mati konyol, pak. btw, negeri ini memang sudah lama terjerat dalam lingkaran yang ndak jelas ujung pangkalnya. mungkin diperlukan reoreientasi mendasar ttg manajemen kenegeraan seperti yang dilakukan oleh para founding fathers.

    BalasHapus

Silahkan berkomentar